LPM FENOMENA – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Islam Malang (UNISMA) angkatan 2024 yang tergabung dalam kelompok Abinaya sukses menyelenggarakan perhelatan akbar bertajuk “Kereta Sastra: Melihat Sastra dari Pandangan Gen-Z” pada Rabu, (07/01/26). Berlokasi di Hall KH Hasyim Asy’ari, Gedung B Lantai 7 UNISMA, kegiatan ini hadir sebagai manifestasi dari proyek akhir mata kuliah Keprotokolan di bawah bimbingan dosen Itznaniyah Umie Murniatie, M.Pd. Festival literasi ini menjadi sorotan utama karena keberhasilannya memadukan kemajuan teknologi masa depan dengan keteguhan dalam menjaga identitas jati diri bangsa melalui pengulikan sastra yang mendalam.
Konsep acara dirancang menyerupai perjalanan kereta api yang membawa peserta melintasi tiga stasiun dengan pengelolaan pewara yang unik. Perjalanan dimulai secara hangat oleh Ni’matul Jannah sebagai pewara pembuka. Memasuki Stasiun 2 yang menjadi pusat diskursus intelektual, panitia memperkenalkan inovasi berupa penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sebagai pewara digital khusus di stasiun tersebut. Kehadiran AI ini berfungsi untuk memandu transisi diskusi, sementara stasiun lainnya tetap dipandu sepenuhnya oleh pewara manusia untuk menjaga kedekatan emosional dan ruh kemanusiaan dalam sastra.
Perhelatan ini dibuka dengan pesan kuat dari para pimpinan fakultas mengenai visi sastra di masa depan. Wakil Dekan 3 FKIP UNISMA, Dr. Muhammad Badri, M.Pd., memberikan pandangannya mengenai eksistensi sastra di era digital.
“Eksistensi dari kereta itu adalah kebersamaan untuk menuju satu tujuan. Sastra generasi Z adalah sastra di mana satu nama itu tidak cukup untuk memberi nama. Hyper-space sastra itu akan menjadi bagian untuk memberikan garis bawah,” ujarnya.
Hal ini diperkuat oleh Dekan FKIP UNISMA, Dr. Hamiddin, M.Pd., yang menegaskan filosofi berkelanjutan dari kegiatan ini sebelum membacakan puisinya yang bertajuk Monolog Digital.
“Kereta itu dari kata harita yang artinya roda. Roda itu bentuknya bundar, artinya selama napas kita masih berhembus, kreativitas harus terus berlanjut karena kreativitas inovatif adalah proses meningkatkan kualitas diri,” tegas Dr. Hamiddin.
Kedalaman pengulikan sastra di Stasiun 2 terbagi ke dalam dua sesi diskusi. Sesi pertama menghadirkan para mahasiswa penulis naskah yang berhasil meloloskan karyanya dalam kurasi Balai Bahasa Jawa Timur, yakni Faizal Mubarok Ar Rofy, Safira Ramadani Mahfud, dan Vegileha Trisdianti. Diskusi inspiratif ini dipantik oleh Kameliya Nafiah yang mengupas tuntas proses kreatif narasumber.
Berlanjut pada sesi kedua, Maulviy Thursina atau Mbak Upik bertindak sebagai pemantik dalam diskusi pakar bersama Dr. Ari Ambarwati, M.Pd. Dalam sesi ini, Dr. Ari Ambarwati menekankan pentingnya membaca sebagai fondasi utama sebelum menulis.

“Tidak ada satu pun penulis yang hebat yang bisa menghasilkan karya yang hebat kalau dia tidak membaca. Maka, jangan ngapain-ngapain sebelum membaca paling tidak 15 sampai 20 cerita,” ungkap Dr. Ari Ambarwati.
Beliau juga menambahkan bahwa esensi sejati dari seorang pendidik adalah keberhasilan melahirkan generasi baru yang berkarya.
“Kebanggaan terbesar seorang guru itu sebetulnya bukan karya pribadi untuk kepentingan akademik, tapi sesungguhnya adalah ketika melihat mahasiswa atau anak didiknya mampu berkarya dan melanjutkan estafet literasi tersebut,” tambahnya.
Uniknya, peserta dan undangan acara ini disuguhkan hidangan sehat berupa polo pendem yang terdiri atas ubi, singkong, dan kacang rebus sebagai konsumsi utama. Pemilihan panganan tradisional ini merupakan sebuah pernyataan sikap budaya bahwa kemajuan teknologi harus dimanfaatkan tanpa mencabut akar jati diri manusia Indonesia.
Kemeriahan berlanjut di Stasiun 3 yang dipandu oleh Aziratun Najiah sebagai pewara sekaligus masinis puisi. Berbagai bait puisi legendaris karya Chairil Anwar, WS Rendra, hingga Sapardi Djoko Damono dibacakan. Penampilan emosional juga ditunjukkan melalui monolog teatrikal oleh Faizal Zaki Ramadhani serta aksi memukau dari “Masinis Cilik” MIT Nurul Jadid yang menampilkan puisi serta pidato dai cilik yang memukau. Pertunjukan tari Remo oleh Muhammad Hisyam Zul Fahmi dan Robit Wahyu Febrian semakin mengukuhkan bahwa ekspresi Gen-Z tetap memiliki ruh nusantara yang kental.
Sebagai bentuk komitmen terhadap dunia pendidikan, acara ini juga meresmikan penyerahan Anugerah Guru Bahasa Indonesia Inovatif Se-Malang Raya. Penghargaan diberikan kepada Astria Prameswari, S.S., S.Pd., M.Pd. sebagai juara pertama, disusul oleh Farida, S.Pd. sebagai juara kedua, dan Imrotin, M.Pd. sebagai juara ketiga.

Kehadiran berbagai sekolah seperti SMKN 12 Malang, MA Nurul Ulum 2, MIT Nurul Jadid, hingga SMA IIBS Al-Mashurin menunjukkan bahwa pesan harmoni antara teknologi dan tradisi ini tersampaikan lintas generasi. Festival ini membuktikan bahwa Gen-Z mampu mengawinkan efisiensi teknologi dengan kedalaman rasa nusantara.
Melalui Kereta Sastra 2026, mahasiswa PBSI UNISMA berhasil membuktikan bahwa teknologi dan tradisi bukanlah dua kutub yang berseberangan, melainkan rel yang saling berdampingan untuk membawa sastra Indonesia melaju lebih jauh tanpa kehilangan jati dirinya.






