Bagaimana Pers kini dipandang oleh publik? Dari kacamata Penulis ini, yang memandang dari hanya seorang mahasiswa, yang mencoba larut dalam dunia jurnalistik. Bagi penulis, pers bukanlah sesuatu yang begitu penting-penting banget. Penulis di sini mencoba menekankan, apa yang kemudian kini publik, juga refleksi kita pribadi pejuang pers itu sendiri, bagaimana memandang makna sebuah informasi, fenomena apa yang terjadi, kenapa atau di balik apa sesuatu yang disampaikan, dan barangkali bagaimana kemasan berita atau cerita itu dibawakan? Saya hanya bertanya-tanya ketika saya mencoba mencari sesuatu, kenapa ada orang lain yang tidak menyukainya? Kemudian aku belajar sesuatu lagi. Dan kemudian mendapatkan pertanyaan lanjutan; ketika aku ingin mencari sesuatu dengan segala proses yang kuusahakan sesuai dengan kode-kode norma dan etika sosial maupun khusus (etika jurnalis), kemudian orang tetap ada yang tidak menyukainya? Pers dan asumsi manusia tak sekadar dibuatnya bagai saudara kembar begitu saja.
Penulis tidak hanya ingin mencoba meneroka apa yang telah terjadi lalui jejak historis, misalnya tingkat permasalahan negeri, yang entah mulai dari zaman kolonial dan sumpah pemuda, pendudukan jepang, lalu kemerdekaan, pascakemerdekaan, orde baru, atau sampai reformasi dan sekarang. Barangkali itu telah menjadi dan biar banyak dibahas orang lain. Sedangkan huru-hara kini tak sebabkan sosok sesuatu yang pikiran islami penulis sebutkan sebagai “batil” itu bergetar juga ketakutan, dan jangan terbawa nafsu sendirian saudara-saudara persmaku. Sungguh melihat pula dan turut menjadi gejolak menggelitik pribadi saya, yakni ucapan yang lewat instastory dengan desain ala kadarnya dari Sang Nomor 1 Negeri Indonesia sendiri tak ubahnya hari ini sebagai sesuatu yang penting-penting banget, atau malah lebih rendah, doaku semoga tidak begitu.
Penulis tidak melarang sekali bahwa tetap untuk menggonggong tentang pentingnya pers dan mempertanyakan kembali eksistensi pers di negeri ini. Lantas kemudian pers itu kenapa? Dan kenapa pers?
Sedangkan kini dalam pers mahasiswa, saya melihat telah memudarnya ketajaman bicara dan berkurangnya kelantangan suara dalam meneriaki sesuatu yang salah serta tidak pada tempatnya. Kemudian menjadi sesuatu yang lain, sesuatu yang dicegat-jegal oleh pion-pion pihak ketiga untuk membersihkan niat suci kami yang menjadi kotor. Sedangkan di sisi yang berbeda, perjuangan pers itu sendiri masih sangat diusahakan oleh wartawan-wartawan senior kita, yang persnya itu beneran asli!
Kemudian apa yang penulis harapkan yakni menggonggonglah! Yang tak lagi sekadar gonggongan semata, lebih daripada itu, mengaumlah pers mahasiswa!!!
Dalam tulisan ini, penulis tidak lebih pula hanya ingin menyampaikan gejolak keresahan dengan bualan-bualan paling sulit dipahami bagai abstraksi dan paradoks fenomena negeri ini sendiri. Karena apa? Ya itulah yang sebenarnya ingin penulis sampaikan, pers ini tidak mudah! Maka bacalah ulang ketika sampai di sini, dan terima kasih telah membaca sampai ujung sini.
Sekian, salam persma!




