LPM FENOMENA – Kepengurusan Duta Perpustakaan Universitas Islam Malang menjadi sorotan usai pelaksanaan kegiatan puncak Grand Final Duta Perpustakaan 2026. Sejumlah pengurus menilai ketua Duta Perpustakaan Unisma tidak menjalankan tugas secara optimal, terutama dalam aspek koordinasi internal selama persiapan hingga pelaksanaan acara.
Minimnya koordinasi antar pengurus disebut sebagai persoalan utama yang berdampak pada kinerja kepanitiaan. Kondisi tersebut membuat sejumlah pengurus merasa tidak dilibatkan secara maksimal dalam proses perencanaan maupun pelaksanaan kegiatan.
“Sejak awal persiapan, koordinasi antar pengurus sangat minim. Banyak keputusan yang tidak dikomunikasikan dengan baik,” ujar salah satu pengurus Duta Perpustakaan Unisma yang enggan disebutkan namanya, saat diwawancarai.
Selain masalah koordinasi, ia juga menyoroti tidak adanya penghargaan terhadap peran dan keberadaan mereka dalam kegiatan puncak Grand Final. Hal ini membuat sebagian pengurus merasa hanya dijadikan pelengkap tanpa ruang kontribusi yang jelas.
“Kami merasa tidak diberi kesempatan untuk berperan. Padahal, kami juga bagian dari kepengurusan yang seharusnya dilibatkan,” lanjutnya.
Ketidaksiapan kepengurusan semakin terlihat ketika dalam pelaksanaan Grand Final, pengurus Duta Perpustakaan Unisma terpaksa meminta bantuan dari lembaga protokoler lain untuk membantu kelancaran acara. Menurutnya, langkah tersebut diambil karena internal organisasi dinilai tidak siap mengelola kegiatan berskala besar.
“Fakta bahwa ia harus meminta bantuan pihak lain, hal ini menunjukkan bahwa kepengurusan ini tidak benar-benar siap. Ini seharusnya menjadi tanggung jawab internal,” tutupnya.
Hingga berita ini diterbitkan, redaksi masih berupaya untuk menindaklanjuti pihak terkait guna memperolah klarifikasi dan informasi yang berimbang.





