LPM FENOMENA – Polemik internal yang mencuat pasca pemberitaan mengenai Grand Final Duta Perpustakaan Universitas Islam Malang (Unisma) akhirnya mencapai titik terang. Melalui proses musyawarah dan diskusi mendalam, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) FENOMENA bersama pengurus Duta Perpustakaan Unisma menyepakati klarifikasi bersama untuk meluruskan informasi yang berkembang.
Duduk Perkara: Antara Data Lapangan dan Validasi
Polemik ini bermula dari publikasi berita berjudul “Polemik Internal Mencuat di Grand Final Duta Perpustakaan Unisma, Pengurus Ungkap Lemahnya Koordinasi” pada 20 Januari 2026. Berita tersebut disusun berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu pengurus yang melaporkan adanya kendala komunikasi di internal organisasi.
Pewarta LPM FENOMENA menegaskan bahwa laporan tersebut dibuat secara netral berdasarkan bukti awal berupa rekaman percakapan dan foto kegiatan. Namun, dalam prosesnya, diakui terdapat kekurangan dalam tahap verifikasi lanjutan (check and re-check) kepada pihak-pihak terkait lainnya untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh sebelum berita dipublikasikan.
“Pewarta hanya menyampaikan apa yang sudah diwawancarai dari narasumber. Bukti memang tidak diberikan secara fisik, hanya berupa foto kegiatan pada saat grand final,” jelasnya.
Ia menambahkan, fokus utama berita hanya pada satu isu, yakni lemahnya koordinasi, sesuai dengan hasil wawancara dan bukti video chat yang ia terima.
“Dalam video yang kami terima, terlihat adanya kurang komunikasi antar pengurus. Namun pewarta tidak memihak siapa pun karena ini merupakan persoalan internal organisasi,” ujarnya.
Menurutnya, tudingan bahwa berita tersebut hoaks merupakan penilaian yang tidak tepat, sebab informasi yang disampaikan bersumber langsung dari narasumber dengan bukti yang sedikit cukup memadai berdasarkan hasil wawancara.
“Pewarta hanya menjembatani apa yang disampaikan narasumber berserta bukti atas statemen itu. Titik permasalahannya hanya pada kurangnya koordinasi,” tegasnya.
Fakta Baru: Dinamika Internal dan Responsibilitas Pengurus
Dalam pertemuan klarifikasi, pihak Duta Perpustakaan Unisma yang diwakili oleh Ketua Umum, Shofie Auliya dan Mujahid, salah satu pengurus memberikan perspektif tambahan yang memperjelas situasi sebenarnya. Berdasarkan bukti video pembelaan serta riwayat komunikasi grup (video chat), terungkap bahwa kendala koordinasi yang terjadi bukan hanya disebabkan oleh ketidaksiapan pimpinan, melainkan minimnya respons dari sebagian anggota pengurus.
“Bukan hanya ketua umum yang lemah dalam koordinasi. Ini adalah tanggung jawab seluruh pengurus,” ujar Ketua Umum Duta Perpustakaan Unisma.
Ia juga menilai LPM seharusnya melakukan pendalaman informasi lebih lanjut sebelum mempublikasikan berita.
“Setidaknya harus ada wawancara dengan pihak yang bersangkutan secara langsung agar informasi lebih utuh,” lanjutnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa dinamika internal organisasi tidak seharusnya berkembang menjadi polemik terbuka yang berlarut-larut.
Ia menegaskan bahwa tugas ketua umum merupakan amanah besar yang sangat bergantung pada komunikasi antar pengurus.
“Tujuan informasi ini agar semua pihak bisa sama-sama mengetahui dan melakukan evaluasi,” katanya.
Pelapor yang Tidak Kompeten
Fakta menarik muncul ketika diketahui bahwa pihak yang memberikan laporan awal kepada media justru tercatat tidak memberikan respons aktif dalam forum komunikasi internal organisasi, terungkap dalam bukti yang diberikan pihak Duta Perpustakaan. Hal ini menunjukkan adanya ketidaksinkronan antara laporan yang diberikan narasumber dengan komitmen kerja di dalam organisasi itu sendiri. Ketua Umum Duta Perpustakaan menegaskan bahwa selama berbulan-bulan, beban kerja lebih banyak dipikul oleh segelintir orang akibat kurangnya partisipasi kolektif.
Resolusi: Lima Poin Kesepakatan Bersama
Sebagai bentuk tanggung jawab profesional dan semangat perbaikan, kedua belah pihak menyepakati lima poin utama dalam klarifikasi bersama, yang tertulis dalam surat terlampir:
1. LPM FENOMENA menegaskan komitmennya menjunjung tinggi kebebasan pers yang bertanggung jawab dengan berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik, prinsip keberimbangan, dan akurasi informasi.
2. LPM FENOMENA tidak menolak peliputan kegiatan Duta Perpustakaan Unisma, namun menekankan pentingnya keterbukaan akses informasi dan komunikasi yang memadai agar peliputan berjalan optimal.
3. Kedua pihak menyadari bahwa proses check and recheck terhadap seluruh pihak terkait, khususnya pengurus inti dan Ketua Duta Perpustakaan Unisma, belum dilakukan secara menyeluruh sebelum publikasi, sehingga berpotensi menimbulkan persepsi yang tidak utuh.
4. Ketua Duta Perpustakaan Unisma menyatakan bahwa dinamika internal merupakan bagian dari proses organisasi dan terbuka terhadap kritik serta masukan konstruktif.
5. LPM FENOMENA dan Duta Perpustakaan Unisma sepakat memperbaiki pola komunikasi dan koordinasi ke depan agar pemberitaan lebih berimbang, akurat, dan edukatif.
Dengan adanya klarifikasi bersama, polemik pemberitaan Grand Final Duta Perpustakaan Unisma diharapkan tidak lagi berkembang dan memperkeruh suasana.
LPM FENOMENA menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas sikap kooperatif dan keterbukaan pihak Duta Perpustakaan Unisma dalam menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan. Apresiasi juga atas berjalannya acara Grand Final Duta Perpustakaan yang dilaksanakan dengan kepanitiaan yang minim.
Seluruh pihak sepakat peristiwa ini sebagai momentum dan bahan evaluasi yang berharga untuk memperkuat koordinasi, profesionalisme, serta hubungan yang lebih sehat antara media mahasiswa dan organisasi kampus di masa mendatang.





