LPM FENOMENA – Setelah sebulan penuh berpuasa, akhirnya tiba saatnya untuk saling memaafkan dan mempererat tali silaturahmi. Namun, belakangan ini, ada satu tren yang menurut saya agak mengganggu esensi dari pertemuan tersebut; Joget Velocity. Entah dari mana asalnya, tiba-tiba semua orang merasa perlu untuk berjoget ria.
Saya paham, media sosial seperti TikTok memang punya pengaruh besar dalam menyebarkan tren. Joget Velocity dengan gerakan cepat dan energik, memang terlihat menarik di layar ponsel. Tapi apakah itu berarti kita harus memaksakannya dalam setiap kesempatan, termasuk saat silaturahmi Lebaran? Bukankah tujuan utama dari pertemuan ini adalah untuk berbagi cerita, melepas rindu, dan mempererat hubungan? Mengapa harus diselingi dengan joget yang, jujur saja, tidak semua orang nyaman melakukannya?
Tolong!! Tidak Semua Orang Bisa Melakukannya
Jadi, ceritanya, saya sempat datang ke acara Lebaran di rumah keluarga. Awalnya sih biasa aja, ngobrol-ngobrol sama keluarga, ketawa-ketawa, sambil makan ketupat dan opor. Lalu, tiba-tiba saja, ada satu sepupu muda yang entah kenapa semangatnya lebih menggebu-gebu dari biasanya. Dia bilang, “Ayo, semua! Kita joget Velocity!” Saya yang saat itu masih mencoba mencerna kata (Velocity). “Eh, joget apa tuh?” tanya saya.
Ternyata, ini bukan joget sembarangan, guys. Gerakannya cepat, energik, dan butuh koordinasi tubuh yang agak lebih daripada sekadar goyang-goyang biasa. Dan semua orang, dari yang muda sampai yang tua, diajak untuk ikut. Nah, lucunya, keluarga yang lebih tua pada kelihatan bingung. Saya sendiri malah merasa kayak terjebak dalam acara yang agak nggak masuk akal. Sampai akhirnya saya memutuskan, “Udah lah, mendingan saya nonton aja dari jauh.”
Kadang saya mikir, apakah kita benar-benar butuh joget Velocity untuk menikmati kebersamaan? Lebaran adalah tentang momen yang penuh dengan kehangatan, bukan tentang siapa yang paling update dengan tren terbaru. Memang sih, seru kalau kita bisa ikut-ikutan joget, tapi harus diingat juga bahwa tidak semua orang merasa nyaman melakukan hal yang sama.
Kembali ke Esensi Silaturahmi
Jadi, saya bukan anti-tren, ya. Saya juga paham kok kalau banyak orang suka hal baru dan seru-seruan. Tapi, ada tempat dan waktunya, kan? Silaturahmi Lebaran adalah saatnya untuk menghabiskan waktu dengan orang-orang terdekat, bukan untuk berlomba-lomba jadi seleb TikTok. Kita bisa tetap bersenang-senang tanpa harus mengubah esensi dari momen tersebut. Saya rasa, ada banyak cara lain untuk menikmati waktu bersama keluarga selain dengan mengikuti tren yang tiba-tiba muncul.
Intinya, Lebaran itu bukan tentang siapa yang paling hits dengan tren terbaru, tapi tentang siapa yang paling bisa menjaga nilai-nilai kebersamaan dan saling menghargai. Jadi, mungkin di Lebaran berikutnya, kita bisa tetap menikmati kebersamaan tanpa perlu ribet dengan joget-jogetan yang bikin canggung.


