MALANG, LPM Fenomena – Badan Debat Fakultas Hukum (BDFH) Universitas Islam Malang (Unisma) memfasilitasi gelaran nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter terbaru tahun 2026 berjudul “Menolak Punah”. Film berdurasi 1 jam 8 menit ini merupakan karya sutradara Aji Yahuti dan Dandhy Laksono yang diproduksi melalui kolaborasi Koperasi Ekspedisi Indonesia Baru, The Body Shop Indonesia, Sunspirit, dan Sejauh Mata Memandang.
Mengangkat tema “Saat Semua Semakin Mudah dan Murah”, kegiatan bertajuk Ex Return Episode 2 ini digelar di Gedung B Lantai 2 Kampus Unisma pada Jumat (26/6). Guna memperluas eskalasi gerakan, pihak penyelenggara yang terdiri dari Badan Debat, Badan Peradilan Semu, dan Himaprodi Hukum FH Unisma ini juga menggandeng kolaborator eksternal, yaitu Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Timur dan Gak Pake Lama, Yuk! (GPL Yuk).
Diskusi interaktif tersebut menghadirkan empat pemantik yang membedah krisis ekologi dan fenomena fast fashion yang diangkat dalam film. Wakil Dekan 2 FH Unisma, M. Fahrudin Andriansyah, S.H., M.H., menekankan pentingnya pergeseran paradigma menuju ekosentrisme demi menjaga etika lingkungan. Ia juga mengkritisi rapuhnya kedaulatan sandang nasional, selaras dengan fakta di dalam film bahwa 99 persen kebutuhan kapas Indonesia ternyata dipenuhi melalui impor.
Kritik terhadap kebijakan makro disampaikan oleh Direktur Utama Swara Bumi, Fitra Abdillah Sulha, yang menilai pemerintah mengalami kegagalan sistemik dalam mengatur baku mutu mikroplastik serta tata kelola industri tekstil.
Di sisi lain, Pegiat Literasi Ekologi, Muhammad Eko Aditya, menyoroti ancaman nyata dari menumpuknya sampah pakaian (textile waste). Fenomena ini diperparah oleh riset yang menunjukkan bahwa 3 dari 10 orang Indonesia membuang baju yang baru sekali dipakai, sebuah gaya hidup konsumtif yang mengancam kelangsungan bumi.
Diskusi ditutup dengan penegasan dari Advokat WALHI Jatim, Revolver Langit Akbar, S.H., yang menyerukan prinsip hukum bahwa segala sesuatu yang membahayakan kelangsungan bumi dan memicu krisis iklim harus dihilangkan.
Penggagas sekaligus Komite Pengarah (Steering Committee) acara, Muhammad Rizqi Fadilah, mengungkapkan bahwa konsep Ex Return ini awalnya dirancang sebagai wadah komunikasi untuk memulangkan alumni agar dapat berdiskusi kembali dengan mahasiswa, sekaligus memicu iklim diskusi di lingkungan kampus.
“Harapan saya yang pasti adalah lahir kesadaran di pikiran dan di hati teman-teman sekalian yang hadir. Karena dari kesadaran itu akan timbul pikiran yang kritis, gerakan yang nyata, dan aksi yang benar-benar berdampak,” ujar Rizqi.
Melalui momentum ini, sinergi lintas organisasi di Unisma diharapkan tidak berhenti pada satu acara saja. Agenda kolaboratif ini menjadi pemantik awal untuk membangun jaringan relasi yang luas bagi mahasiswa dalam mengawal isu-isu kelestarian lingkungan hidup dan hak asasi manusia secara berkelanjutan di masa depan.





