"Berbagi Kata, Berbagi Berita"

Di Suatu Kedepan Tanpa Gagang Senjata di Tempurung Kepala

Oleh: Yusril Muzakky
Ilstrasi by Asyikasyik.com

Di suatu kedepan aku ingin ngopi dengan

tenang di teras rumah, sambil membaca buku-buku

punyanya pram dan menamatkan Laut Bercerita

dan melenggang-lenggakkan ekspresi

berteriak sampai suara habis

dengan puisi-puisi rendra dan wiji thukul

di tangan, tangan satunya kuat mengepal

seru dan menyeru membacakan sampai

berisik sendiri dan tetangga marah

itu sekalian aku videokan, masuk youtube

dan semoga-semoga sampai viral di tiktok

lalu dapat adsense, dan membayar pajak yang rendah

sungguh kesemogaan luar biasa yang paling teramini

dari rakyat sipil sepertiku yang bermimpi indah

dan semoga mimpi yang lain alias

mimpi buruknya yang tak terjadi, semisal ialah

tak sampai-sampai ada intel

lancang mengintip kemaluan kebebasanku itu

tak sampai gagang-gagang senjata perang

atau sniper handal membawa laras panjang

siap menembus tempurung kepalaku di kejauhan

atau setidak-tidaknya mungkiin

dibuat buntung atau bisu atau mati kebebasanku.

Di suatu kedepan aku ingin hidup

tanpa ada persenjataan, laras-laras panjang itu

atau bahkan berbagai jenis pistol

beredar di lingkungan sekitarku

bukan untuk dibawa pasar, beredar dan diperjualbelikan

tetapi diarahkan ke tempurung-tempurung

yang mereka anggap pemberontak

lalu menggadai kebebasan sipilku.

Dengan menaruh segala hormat untuk tetap

ada kebebasan. Segala puji bagi panglima-panglima

militer semoga hanya menjaga dan tak merampas negeri ini

semoga aku tak mati mengenaskan

atau kelayakan hidup yang direnggut dan hilang.

Aku ingin kedepan baik-baik saja.

Dengan tenang ngopi sudah sambil membahas negeri

dan saham-saham lokal yang tak lagi terpuruk

dan perekonomian negara ini kian tumbuh tiap tahun

dan pemerintah yang punya akal sehat

dan terutama wakil-wakil rakyat yang tak lagi mewakili partai.

Sampai segala doa terpanjat

sampai sekarang

mungkin bisa jadi saatnya mewujudkan, dengan

segala mimpi bila-bila tak ada mimpi buruk

yang malah jadi kenyataan

kalau-kalau ternyata kini negara menggunakan alat terakhirnya

dan militer mulai-mulai berkuasa atau dipakai kuasa

tak ada pilihan lagi bukan, kalau selain melawan?!

Di suatu kedepan rakyat sipil sepertiku tak merasakan

seperti pendahulu-pendahuluku saat-saat jaman orde baru

Di suatu kedepan aku tak ingin

ada gagang senjata dan segala ancaman

mengincar kepala dan hidupku.

Di suatu kedepan tanpa merasakan kebebasan lagi

sungguh tak mau, kapan dan apa yang nanti bakal tiba?

Dan di suatu kedepan aku malah jadi

menulis  puisi-puisi perlawanan

atau lebih suka menulis indahnya

negeriku dengan tanpa tekanan.

Naungan Malang, 2025.

Tulisan Lain di &

Mendung di Langit Malaysia

En Garde: Energi Booster dengan Lirik Penyemangat Anti-Give Up!

Setan Bulan Puasa

Sajak Untuk Yunita

A Love that Lasts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terbaru

Harlah FKIP Unisma Ke- 45 Hadirkan Kebersamaan, Dosen dan Mahasiswa Lebur Tanpa Sekat

Simfoni Perlawanan di Balai Kota: Saat Sekat Kelas Melebur dalam Distorsi dan Spanduk Tuntutan

Di Balik Tema “Gersang”: Kritik UKM Komunitas Teater Unisma terhadap Birokrasi Kampus di Hari Teater Dunia

Hilal di Bawah Ufuk, Syiar di Atas Bukit: Ikhtiar LPIK UNISMA Menjaga Tradisi Rukyat

Populer

Harlah FKIP Unisma Ke- 45 Hadirkan Kebersamaan, Dosen dan Mahasiswa Lebur Tanpa Sekat

Simfoni Perlawanan di Balai Kota: Saat Sekat Kelas Melebur dalam Distorsi dan Spanduk Tuntutan

Di Balik Tema “Gersang”: Kritik UKM Komunitas Teater Unisma terhadap Birokrasi Kampus di Hari Teater Dunia

Hilal di Bawah Ufuk, Syiar di Atas Bukit: Ikhtiar LPIK UNISMA Menjaga Tradisi Rukyat