Kota Batu, LPM Fenomena—Komunitas kolektif Aksara Bhinneka resmi mengumumkan kebangkitan aktivitasnya pascavakum melalui penyelenggaraan acara tahunan dan perayaan milad komunitas bertajuk “Sasana Sasrawungan” di Kedai Omah Kayu, Sisir, Kota Batu, pada Jumat (29/5/2026). Dalam momentum tersebut, komunitas lintas kampus ini juga resmi bertransformasi nama menjadi Aksara Project Collective.
Pendiri Aksara Project Collective, Bayu Fitrah Kurniawan atau yang akrab disapa Jay, menjelaskan bahwa perubahan nama ini sekaligus mengubah konsep pergerakan dengan merangkul berbagai organisasi, komunitas, maupun perorangan. Sebelumnya, komunitas yang lahir di Universitas Islam Malang (Unisma) pada 2021 ini sempat vakum sejak akhir 2024 akibat dinamika internal dan wafatnya salah satu pendiri, almarhumah Zahratunnisa Salsabila.
“Kegiatan ini adalah awal kebangkitan kami setelah sempat hibernasi. Konsepnya mengikuti nama baru; kami akan selalu merangkul komunitas, organisasi, maupun perorangan untuk bergerak kolektif. Besar harapan kami, mitra-mitra mengetahui bahwa kami sudah kembali aktif dan siap menggempur dunia kepemudaan di Malang-Batu,” ujar Jay.
Acara pembuka “Sasana Sasrawungan” diawali dengan penampilan seni pertunjukan kolaboratif yang menggabungkan pembacaan puisi dan seni rupa oleh Teater Bangkit, Himaprodi PBSI Unisma, serta kelompok Artchif selaku bintang tamu. Agenda utama kemudian dilanjutkan dengan nonton bareng (nobar) dan diskusi kritis film dokumenter Pesta Babi yang berlangsung hingga pukul 22.30 WIB. Diskusi ini menghadirkan akademisi sekaligus dosen Sastra Indonesia Universitas Al-Qolam Malang, Akhmad Mustaqim, S.Pd., M.Pd., sebagai pemantik utamanya. Menariknya, Mustaqim juga merupakan alumnus PBSI Unisma dan pernah menjabat sebagai Ketua Umum LPM Fenomena.
Dalam paparannya, Mustaqim membedah film Pesta Babi menggunakan teori Subaltern gagasan Gayatri Spivak. Ia menilai film tersebut berhasil merepresentasikan suara masyarakat adat Papua yang terpinggirkan oleh regulasi dan ambisi agraria pemerintah. Dari sudut pandang pendidikan, ia juga menyebut dokumenter tersebut memenuhi tiga pilar deep learning, yakni bermakna (meaningful), kontekstual, dan menyenangkan (joyful).
“Isu pelanggaran HAM dan kerusakan lingkungan di Papua sangat mudah dilupakan dan sering kali tenggelam oleh isu-isu viral sesaat di media sosial,” kritik Mustaqim mengenai fenomena amnesia masyarakat modern terhadap isu krusial.

Diskusi yang dipandu oleh Muhammad Rizqi Fadilah dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Fenomena selaku moderator, memicu respons dari peserta terkait isu lokal. Salah satu peserta, Karina, menyoroti bahwa dampak kerusakan lingkungan akibat Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dikritik dalam film tersebut memiliki kemiripan dengan realitas di Kota Batu yang telah ditetapkan masuk pusaran PSN sejak 2014. Hal ini sejalan dengan Ketetapan Menteri ESDM No. 2776 K/30/MEM/2014 tertanggal 3 Juni 2014 mengenai proyek geotermal, yakni pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Arjuno-Welirang yang berlokasi di kawasan hutan lindung pegunungan Arjuno-Welirang dan Songgoriti. Proyek ini berada di bawah naungan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP).
Sesuai dengan visi kolektifnya, pergelaran ini sukses terlaksana atas kolaborasi erat antara Aksara Project Collective, Sabtu Membaca, Himaprodi PBSI Unisma, LPM Fenomena, dan Artchif sebagai guest star yang membawakan performing art.
Sebelum diskusi ditutup, Rizqi juga menyampaikan bahwa tidak ada kesimpulan pada perbincangan kali ini, agar hari esok dan seterusnya diskusi-diskusi akan tetap hidup. Ia lantas menutup diskusi dengan seruan “Papua bukan tanah kosong!” lalu dibalas oleh semua yang hadir dengan pekikan serupa, “Papua bukan tanah kosong!”.





