"Berbagi Kata, Berbagi Berita"

Kamar Terang: Puisi-puisi Muhammad Rizqi Fadilah

Oleh: *Muhammad Rizqi Fadilah
Ilustrasi oleh penulis*

Kamar Terang

selalu saja cahaya kamar bapak itu

menyeruak keluar di tengah gelap malam

adakah ia amat takut

mimpi buruk menerkam?

jika benar demikian

maka ia layaknya putrinya

sang putri layaknya dirinya

Sama-sama tidak akan membiarkan

gelap menyelimuti tidurnya

namun mereka telah kehilangan cara

untuk meneruskan kisah bersama

Pemarah

aku amat lelah menjadi pemarah

suaraku terlalu suka kencang

kata ku suka menikam hati orang

umpatan sudah semacam kebenaran

aku amat lelah menjadi pemarah

aku selalu marah kepada negara

aku selalu marah kepada fana dunia

aku selalu marah kepada ibu yang jauh di sana

namun kian hari aku amat takut menjadi pemarah

takut ibu akan terus marah kepadaku lebih parah

Kau Pemenangnya

kata orang kau lebih tampan

kenyataan memang kulitmu lebih terang

kata orang kau lebih menawan

nyatanya kebersamaan mu

dengan ibu lebih menyenangkan

seandainya ia tidak bilang terserah

saat hadir niatku menghafal al-quran

seandainya ia tidak datar saja

saat ku bawa kabar juara tiga tenis meja

seandainya ia tak membelikanmu kaos superman

setelah dengan ketus melarangku menginginkannya

sekarang,

masih kah keseharian mu

menjadi cerita menarik baginya?

masih kah tiada kekar diri mu diminta

bekerja dan mencari beasiswa?

jika iya, memang kau lah pemenangnya

jika tidak kemarilah

ku beri tahu siasat bertahan selamanya

sebagai anaknya

Aku Punya Cara

aku punya cara bercerita

dengan memperagakan kejadiannya

aku punya cara berkisah

dengan cara memasaknya seperti legenda

namun semua cara ku hilang

dirampok habis orang yang bilang:

“biasa saja, jangan terlalu berlebihan!”

Jam Tiga

bapak ibu selalu bangun di jam yang sama

namun tidak di kamar yang sama

bapak ibu selalu berdoa dengan cara yang sama

namun tidak secara berjamaah

bapak ibu punya lelah kerja yang sama

namun mereka lebih sepakat untuk berpisah

mereka berdua masih punya perhatian yang sama

namun tetap saja menyakiti kita

karena ikatan mereka telah tiada pada pukul tiga

*Muhammad Rizqi Fadilah

Anggota LPM Fenomena 2026 yang kadang hidup kadang redup. Ia merasa menjadi pemilik nama Muhammad paling tidak tahu syukur di dunia, sebab ia hanya bisa menyandang nama bukan keteladanannya. Ia bertekad menulis hingga akhir hayatnya. Tunggu karya-karya barunya di manapun berada khususnya di Fenomena

Tulisan Lain di &

Semoga Tuhan Mengampuniku: Puisi-puisi oleh Aksara Alisya

Mendung di Langit Malaysia

En Garde: Energi Booster dengan Lirik Penyemangat Anti-Give Up!

Di Suatu Kedepan Tanpa Gagang Senjata di Tempurung Kepala

Setan Bulan Puasa

Sajak Untuk Yunita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terbaru

Emban Misi Global, Pemenang Duta Kampus Unisma 2026 Siap Kawal Visi World Class University

Semoga Tuhan Mengampuniku: Puisi-puisi oleh Aksara Alisya

Kamar Terang: Puisi-puisi Muhammad Rizqi Fadilah

Dari Cublak-Cublak Suweng hingga Jaranan Dhor, Mahasiswa Asing ITS Menyelami Budaya Jawa di Unisma

Populer

Emban Misi Global, Pemenang Duta Kampus Unisma 2026 Siap Kawal Visi World Class University

Semoga Tuhan Mengampuniku: Puisi-puisi oleh Aksara Alisya

Kamar Terang: Puisi-puisi Muhammad Rizqi Fadilah

Dari Cublak-Cublak Suweng hingga Jaranan Dhor, Mahasiswa Asing ITS Menyelami Budaya Jawa di Unisma