Semoga Tuhan Mengampuniku
Kalau saja aku tahu hari itu adalah pertemuan terakhir kita,
akan kupeluk dirimu lebih lama,
akan kuluaskan bahuku untuk kau bersandar lebih lama,
Akan kudengarkan ceritamu lebih lama.
Karena sampai saat ini aku masih menyesal,
membiarkanmu menderita sendirian di sampingku.
Selamat menikmati surga,
Selamat kembali pada pangkuan Tuhan,
Selalu lebih baik bertemu ia yang menyayangimu
daripada bertahan dengan ketidak acuhanku.
Maafkan aku,
yang tak pernah tahu sakitmu apa.
Maafkan aku,
yang tak pernah menanyakan keadaanmu bagaimana.
Tapi percayalah,
setelah kepergianmu
yang tersisa hanyalah penyesalan.
Aku terlambat memahami apa yang kau inginkan.
Aku terlambat mengerti apa yang kau harapkan.
Kini aku hidup dalam penyesalan itu,
karena pernah menyia-nyiakanmu.
Semoga tuhan mengampuniku.
Yang Seperti ini saja, Bolehkah?
Rupanya waktu berjalan begitu cepat
Hingga aku sadar,
sudah beberapa tahun lalu setelah perpisahan kita.
Sudah lama pula,
aku tak melihat senyum yang menghidupkan hariku.
Kebetulan sekali hari ini kita bertemu.
Ah, tatapan itu,
nampaknya hari ini muncul kembali.
Senyum itu masih magis dan menawan
dengan cara yang sama.
Perawakan itu lebih kekar dan tampan,
amat mempesona.
Dan ya,
Suaranya pula masih terdengar sama.
Bahkan lebih, dan semakin merdu.
Ah, Tuhan
yang seperti ini saja,
bolehkah?
Untuk Apa Semua itu?
Jauh sudah ia memberiku aba-aba,
tanda-tanda akan kepergiannya.
namun aku tak pernah sadar,
Bahwa itu caranya menjauh menuju sudah.
Ah, malang sekali aku,
selalu ditinggalkan saat mencoba benar-benar hadir.
Jadi, untuk apa semua itu?
Untuk apa kau menanyakanku kala itu?
Untuk apa kau mengkhawatirkanku kala itu?
Untuk apa kau menceritakan keseharianmu kala itu?
Untuk apa kau berjanji pergi ke tempat-tempat indah kala itu?
Untuk apa?
Untuk apa aku bertahan
jika pada akhirnya kau pergi tanpa pamit?
Aku hanya menjadi tempatmu menyembuhkan luka.
Dan setelah lukamu pulih,
Kau pergi begitu saja
Seolah aku tak pernah berarti apa-apa.
Tapi tenang saja,
aku tak akan memintamu kembali.
Hanya bertanya saja,
hanya ingin tau saja.
Ah,
Semoga Tuhan tidak merencanakan pertemuan kita lagi.
Jauhlah,
asinglah,
Biarlah kita menjadi dua nama
yang pernah saling sapa.
Siapa Nona Manis itu?
Aku kembali ke tempat pertama kita bertemu,
sembari bertanya,
Mengapa pergimu meninggalkan jejak?
Kemana kau berlari hingga bayangmu pun tak mampu kukejar?
Aku mengingat
seberapa sering kita saling bertukar cerita.
Dan sekarang aku kembali bercerita pada diriku sendiri,
berharap yang diajak bercerita datang kembali.
Tapi sampai kapan?
Tak elok sekali kau!
Membuat aku terus menerus menerka.
Siapa gerangan nona manis yang berhasil mendapatkan hatimu itu?
Lemah lembut kah?
Penyayang kah?
Ah, pertanyaan itu rupanya tak pernah menemukan jawab.
Seperti aku yang tak pernah menemukan jalan pulang
setelah kepergianmu.
Ketika pada Akhirnya kita Tidak Bersama
Ketika pada akhirnya kita tidak bersama,
aku harap,
kau tidak mengingat keluh kesahku.
Aku harap,
kau tak menceritakan keluh kesahku kala itu,
pada siapapun.
Aku harap,
sepi tak lagi mampu menyapamu.
Aku harap,
rindu tak lagi hadir menyiksamu.
Karena aku tahu,
bagaimana hampanya saat sepi itu kembali.
Karena aku tahu,
bagaimana menderitanya menanggung rindu yang tiada habisnya. Ah, sudahlah.
Kuharap itu tak terjadi padamu.
Kuharap kau baik-baik saja.
Semoga kita tidak dipertemukan di kebetulan manapun



