"Berbagi Kata, Berbagi Berita"

Realitas Pahit dan Satir Era Penjajahan: Membedah Kelas Sosial dalam Tiga Cerpen Idrus

Ilustasi pendukung oleh AI Gemini
Ilustrasi Pendukung by Gemini AI

Identitas Buku

Judul: Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma

Penulis: Idrus

Penerbit: Balai Pustaka

Tahun Terbit: 1948

Jumlah Halaman: 178 halaman

Kisah Sebuah Celana Pendek”, “Pasar Malam Zaman Jepang”, dan “Corat-coret di Bawah Tanah”.

Tiga cerpen yang diambil merupakan bagian dari kumpulan cerpen Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma tahun 1948 yang menggambarkan kelas sosial pada masanya. Karya Idrus ini merupakan salah satu karya sastra penting dalam sejarah kesusastraan Indonesia. Melalui cerpen-cerpennya, Idrus berhasil menghadirkan gambaran kehidupan masyarakat Indonesia pada masa pendudukan Jepang dengan sangat realistis.

Cerpen “Corat-coret di Bawah Tanah” menggambarkan kehidupan individu yang tertekan dalam situasi sosial-politik yang tidak stabil; “Pasar Malam Zaman Jepang” merepresentasikan kondisi masyarakat di tengah keterbatasan ekonomi dan hiburan semu pada masa pendudukan Jepang; sedangkan “Kisah Sebuah Celana Pendek” menampilkan potret kehidupan rakyat kecil dengan segala keterbatasan yang mereka alami. Ketiga cerpen tersebut memiliki latar waktu yang kuat pada era 1940-an, sehingga menjadi representasi kondisi sosial masyarakat yang dipenuhi kemiskinan, penderitaan, ketidakadilan, serta kesenjangan kelas sosial, sekaligus menunjukkan kemampuan Idrus dalam mengangkat realitas sosial ke dalam karya sastra.

Penderitaan di Atas Trem Gerbong Kelas Sosial

Cerpen “Corat-coret di Bawah Tanah” menceritakan penderitaan dan ketidakadilan sosial di bawah tekanan penjajahan. Di atas sebuah trem yang menjadi situasi penderitaan di masa pendudukan Jepang, penulis membawa kita menyelami suasana trem yang penuh sesak dengan orang, keranjang-keranjang, kambing, dan ayam. Untuk mempertegas kondisi kelas sosial dan ketegangan zaman itu, penulis menggambarkan kontras antara bau keringat, terasi, hingga ludah sirih yang memerah seperti tomat di ambang jendela.

Setiap tokoh merepresentasikan kelas sosial yang terjadi. Perempuan muda Belanda-Indo digambarkan angkuh karena status masa lalunya. Sementara orang Tionghoa tampil berani menuntut kesetaraan melalui semboyan Kemakmuran Bersama, serta terdapat perempuan tua mewakili rakyat kecil yang sengsara namun berani menyindir ketidakadilan. Kontras tajam terlihat pada sosok kondektur yang memiliki sifat oposisi biner; ia bersikap kasar dan tegas kepada rakyat sendiri namun tunduk kepada orang Jepang.

Ketegangan memuncak melalui tokoh Nippon yang arogan dan seorang Indonesia berpakaian rapi yang kritis. Selain itu, kehadiran Kenpeitai yang tegas di akhir cerita berfungsi sebagai penengah yang secara tidak terduga memberikan “kemenangan gilang-gemilang” bagi tokoh Indonesia yang berani bersuara.

Latar cerita dalam buku kumpulan cerpen ini dibangun dengan realistis. Latar tempat berfokus di dalam trem kelas satu dan dua sepanjang rute Kota Harmoni hingga Pasar Baru. Latar waktu terjadi pada masa pendudukan Jepang sekitar pukul setengah dua siang, dengan suasana yang terik, sesak, dan kumuh. Idrus membangun suasana tegang melalui deskripsi yang tajam, seperti bau keringat, bau terasi, dan ludah sirih yang memerah, yang mempertegas penderitaan fisik dan batin para tokohnya. Alur yang digunakan penulis Idrus dalam cerpen ini adalah alur maju, yang dimulai dari eksposisi suasana trem, diikuti konflik antarpenumpang, hingga mencapai klimaks saat orang Jepang melakukan tindakan sewenang-wenang dengan naik melalui jendela.

Ironi Sendenbu dan Fatamorgana Meja Rolet

Beralih pada cerita “Pasar Malam Zaman Jepang”, kisah bermula ketika masyarakat kelas sosial rendah—yang digambarkan menggunakan baju pudar—bergembira ketika mendapat bantuan Sendenbu, yaitu departemen propaganda yang dibentuk militer Jepang pada tahun 1942. Sendenbu sering mencampuri berbagai aspek yang dekat dengan masyarakat, seperti dari musik, bola, dan hiburan lainnya.

Ketika tokoh Amin yang menggunakan pakaian rapi, berdasi, memakai sepatu digambarkan seperti anggota Chuo Sangi In, yaitu dewan pertimbangan pusat untuk penasihat politik pada pemerintahan. Tokoh Ghandi, diceritakan senang bermain rolet atau kasino. Pulang dengan wajah masam, akan tetapi masyarakat masih bertanya-tanya tentang rolet dan berpikir bahwa rolet juga bantuan dari Sendenbu. Di dalamnya, orang-orang Indonesia kurus yang artinya tidak terurus dan tetap bermain rolet.

Semua orang (bukan orang Indonesia) sudah tahu bahwa bermain rolet akan membawa kekalahan, akan tetapi tetap menaruh uangnya di atas meja. Walaupun sudah tidak memiliki uang, ia memiliki surat gadai. Akhirnya, orang Indonesia tersebut menjual baju yang dikenakan seharga dua puluh lima rupiah. Setelah mendapatkan uang dari hasil menjual baju, ia tetap duduk dan tetap bermain kasino. Kalah lagi, dia tetap tidak pulang dan menjual celana yang dikenakannya. Malu karena sudah tidak ada lagi yang bisa dijual, ia keluar dengan tidak memakai baju dan celana. Ketika pagi hari, ia ditemukan meninggal gantung diri.

Kusno dan Filosofi Selembar Celana Pendek

Selanjutnya, cerpen “Kisah Sebuah Celana Pendek” mengisahkan seorang tokoh bernama Kusno. Saat masih kecil, ayahnya tidak peduli dengan politik; dia memikirkan anaknya tidak memiliki celana yang pantas untuk digunakan. Saat berumur 14 tahun, Kusno mencari pekerjaan dengan celananya yang baru. Kusno fokus mencari pekerjaan tanpa memikirkan Pearl Harbour diserang Jepang. Terlihat orang seperti Kusno yang hanya memikirkan nasibnya tanpa melihat sekitar adalah gambaran masyarakat kelas bawah.

Ketidakpedulian tersebut membawanya pada pekerjaan yang rendah, yaitu sebagai opas dengan gaji sepuluh ribu rupiah yang bahkan tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Celana yang mulanya baru kini warnanya semakin pudar. Kusno memikirkan kembali bagaimana membeli celana baru jika upahnya saja tidak cukup untuk makan.

Kusno akhirnya berdoa setiap hari; rakyat yang sederhana dan tidak memikirkan perang hanya takut besok tidak punya celana untuk dipakai. Kusno bahkan tidak mengetahui apa arti demokrasi dan kemakmuran, mungkin kemakmuran baginya adalah celana. Kusno memberanikan diri untuk meminta celana pada atasannya, walaupun Kusno hanya mendapat bentakan dari atasannya. Akhirnya keputusannya adalah berhenti dari pekerjaannya, sehingga dia tidak bisa makan selama beberapa hari sampai terlintas menjual celananya.

Dokumentasi Sosial yang Menolak Lupa

Secara keseluruhan, ketiga cerpen tersebut merepresentasikan kehidupan masyarakat Indonesia pada tahun 1940-an yang dipenuhi kemiskinan, kelaparan, ketidakadilan, dan ketimpangan sosial selama masa pendudukan Jepang. Melalui tokoh-tokohnya, Idrus menunjukkan adanya pembagian kelas yang sangat jelas antara penguasa Jepang sebagai kelompok yang memiliki kekuasaan dan rakyat Indonesia sebagai kelompok yang tertindas. Kekuasaan Jepang dalam cerita-cerita tersebut hadir melalui berbagai bentuk, seperti penindasan, eksploitasi ekonomi, propaganda, hingga kontrol terhadap kehidupan sosial masyarakat.

Kekuatan utama terletak pada penggunaan gaya bahasa realistis dan satire yang tajam. Tidak hanya menghadirkan gambaran heroik yang berlebihan, melainkan menampilkan realitas. Melalui deskripsi yang lugas dan sering kali ironis, Idrus berhasil menyampaikan kritik sosial terhadap kondisi masyarakat pada masanya. Ketiga cerpen ini tidak hanya berfungsi sebagai karya sastra yang menghibur, tetapi juga sebagai dokumentasi sosial yang memperlihatkan perjuangan rakyat kecil dalam mempertahankan martabat dan kelangsungan hidup mereka di tengah tekanan penjajahan. Oleh karena itu, “Corat-coret di Bawah Tanah”, “Pasar Malam Zaman Jepang”, dan “Kisah Sebuah Celana Pendek” layak dipandang sebagai karya penting yang memberikan pemahaman mendalam mengenai realitas sosial Indonesia pada masa pendudukan Jepang.

penulis

Ratu Anya Andriani

Editor:

Mukhammad Yusril Muzakky

Berita Terkait

Menolak Mati, Aksara Project Collective Tandai Kebangkitan Lewat ‘Sasana Sasrawungan’ dan Diskusi Kritis Film ‘Pesta Babi’

Tolak Otoritarianisme Kampus, BEM-FAI Unisma Gelar Diskusi Publik Tampung Aspirasi Mahasiswa

Nobar ‘Pesta Babi’ Perdana di Unisma: BEM-FT Sentil BEM-U hingga Suarakan “Papua Bukan Tanah Kosong!” 

Simfoni Perlawanan di Balai Kota: Saat Sekat Kelas Melebur dalam Distorsi dan Spanduk Tuntutan

Nine Puzzles: Misteri Brutal dan Dendam Tersembunyi di Balik Kepingan Puzzle

En Garde: Energi Booster dengan Lirik Penyemangat Anti-Give Up!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Produk Fenomena

Majalah LPM Fenomena Edisi 30

Lensa

Terbaru

Realitas Pahit dan Satir Era Penjajahan: Membedah Kelas Sosial dalam Tiga Cerpen Idrus

BSO Putra-Putri FKIP UNISMA Gelar Dies Maulidiyah di Kedai Kopi Kalimetro

Himaprodi Ilmu Hukum Unisma dan HMPS HTN UIN Malang Gelar Studi Banding Proker

Populer

Realitas Pahit dan Satir Era Penjajahan: Membedah Kelas Sosial dalam Tiga Cerpen Idrus

BSO Putra-Putri FKIP UNISMA Gelar Dies Maulidiyah di Kedai Kopi Kalimetro

Himaprodi Ilmu Hukum Unisma dan HMPS HTN UIN Malang Gelar Studi Banding Proker

Terbaru

Realitas Pahit dan Satir Era Penjajahan: Membedah Kelas Sosial dalam Tiga Cerpen Idrus

BSO Putra-Putri FKIP UNISMA Gelar Dies Maulidiyah di Kedai Kopi Kalimetro

Himaprodi Ilmu Hukum Unisma dan HMPS HTN UIN Malang Gelar Studi Banding Proker

Himaprodi PBSI Unisma Sukses Jadi Tuan Rumah Studi Banding Lintas Kampus

Populer

Realitas Pahit dan Satir Era Penjajahan: Membedah Kelas Sosial dalam Tiga Cerpen Idrus

BSO Putra-Putri FKIP UNISMA Gelar Dies Maulidiyah di Kedai Kopi Kalimetro

Himaprodi Ilmu Hukum Unisma dan HMPS HTN UIN Malang Gelar Studi Banding Proker

Himaprodi PBSI Unisma Sukses Jadi Tuan Rumah Studi Banding Lintas Kampus

Produk Fenomena

Majalah LPM Fenomena Edisi 30

Lensa