Kamar Terang
selalu saja cahaya kamar bapak itu
menyeruak keluar di tengah gelap malam
adakah ia amat takut
mimpi buruk menerkam?
jika benar demikian
maka ia layaknya putrinya
sang putri layaknya dirinya
Sama-sama tidak akan membiarkan
gelap menyelimuti tidurnya
namun mereka telah kehilangan cara
untuk meneruskan kisah bersama
Pemarah
aku amat lelah menjadi pemarah
suaraku terlalu suka kencang
kata ku suka menikam hati orang
umpatan sudah semacam kebenaran
aku amat lelah menjadi pemarah
aku selalu marah kepada negara
aku selalu marah kepada fana dunia
aku selalu marah kepada ibu yang jauh di sana
namun kian hari aku amat takut menjadi pemarah
takut ibu akan terus marah kepadaku lebih parah
Kau Pemenangnya
kata orang kau lebih tampan
kenyataan memang kulitmu lebih terang
kata orang kau lebih menawan
nyatanya kebersamaan mu
dengan ibu lebih menyenangkan
seandainya ia tidak bilang terserah
saat hadir niatku menghafal al-quran
seandainya ia tidak datar saja
saat ku bawa kabar juara tiga tenis meja
seandainya ia tak membelikanmu kaos superman
setelah dengan ketus melarangku menginginkannya
sekarang,
masih kah keseharian mu
menjadi cerita menarik baginya?
masih kah tiada kekar diri mu diminta
bekerja dan mencari beasiswa?
jika iya, memang kau lah pemenangnya
jika tidak kemarilah
ku beri tahu siasat bertahan selamanya
sebagai anaknya
Aku Punya Cara
aku punya cara bercerita
dengan memperagakan kejadiannya
aku punya cara berkisah
dengan cara memasaknya seperti legenda
namun semua cara ku hilang
dirampok habis orang yang bilang:
“biasa saja, jangan terlalu berlebihan!”
Jam Tiga
bapak ibu selalu bangun di jam yang sama
namun tidak di kamar yang sama
bapak ibu selalu berdoa dengan cara yang sama
namun tidak secara berjamaah
bapak ibu punya lelah kerja yang sama
namun mereka lebih sepakat untuk berpisah
mereka berdua masih punya perhatian yang sama
namun tetap saja menyakiti kita
karena ikatan mereka telah tiada pada pukul tiga



