Empat Menit
06.45
akhirnya ku ambil duduk juga
punggung ku masih ingin pulas
mata ku masih memikul kantuk minggu lalu
pikiran ku tidak mau berhenti berpintal
mendesak keluar dari tidur yang banal
dan tangan ku menyambutnya dengan
sadar tidak mau berhenti menulis
hari ini cicilan ditagih
harus dibayarkan
harus dituntaskan
setidaknya untuk hidup tenang beberapa hari ke depan
06.48
kokok ayam jantan di kejauhan
sepanci minyak panas dan donat bapak bersentuhan
bau ketek, bau mulut, dan belek ini harus segera ku singkirkan
biar terbit dari diriku semangat kehidupan
selesai di 06.49
(2026)
Sabtu-Minggu Pengangguran
terik matahari menerjang
apa saja di teras rumah
sedang aku berlindung di balik
dingin kamar yang tidak terisi kasih sayang
sabtu-minggu jadwal tidur panjang
tiga kali bangun demi tiga kali makan
mbakku malah berangkat ke Bandung
menjemput sebuah sibuk pelatihan
sabtu minggu normalnya hari senang
berdesakan di pasar, mall, atau taman
beruntung beberapa orang juga sibuk memilih
gaun dan kemeja bagus demi menghadap Tuhan
sayup-sayup terdengar adzan
angka tiga dipilih jarum jam
ternyata sekarang adalah sore
yang ku kira terik panas siang
(2026)
Keringnya Diam
daun kering jatuh tepat di depan kita
yang sudah diam sejak semalam
entah kemana larinya kata dan tanya
hanya bisu menyambut pagi tiba
adakah cara untuk daun kering
kembali kepada ranting pohon itu
pasti ia belum puas berdansa
dengan iringan angin musim ketiga
sejenak daun kering itu tergugu pilu
mungkin baginya usia terlalu terburu-buru
cinta dunia belum sepenuhnya ia baca
ia merasa meninggalkan yang penting di sana
sedang kita tak kunjung bercanda
anggur sudah mengalir habis setengah
gelas kosong tak lagi basah
peri-peri cinta beranjak pulang dengan jengah
(2026)


