"Berbagi Kata, Berbagi Berita"

Maaf, Tuhan

Oleh: Zahrotunnisa
Source: pinterest.com

Ia tak memperumah yang berkeliaran
Ia tak memeraja seluruh pemimpin
Ia tak pernah menyengir dalam duka tiap insan
Tapi Ia adalah segala dari dunia busuk ini.
Kala semua hal menjadi nyata dengan engkau yang berdusta.
Kemana kini hati nurani tiap insan yang berbahagia karena-Nya?
Mendambakan hati dalam abai
Mendambakan megah dalam rumit
Mendambakan hidup dalam mati diri dan batin.
Ia tak pernah menuntut.
Tapi kita yang tak pernah waras menghadirkan-Nya dalam tiap liku doa dan dosa kita.
Manusia bodoh!.
Dan aku lebih bodoh karena menyadari bahwa kami ini sama.
Sama sama tak berakal dalam segala sulit.
Mengatasnamakan Tuhan atas penderitaan
Tapi tak dalam kebahagiaan.
Manusia bajing!.
Atau aku yang bajing?!.
Yang pasti kami sama sama pernah lalai.
Hampuraku dalam doa yang kini teriris dalam kalbu yang kotor.
Semoga Tuhan yang mendengar selalu memberi kami ampunan.
Aamiin.

Tulisan Lain di &

Mendung di Langit Malaysia

En Garde: Energi Booster dengan Lirik Penyemangat Anti-Give Up!

Di Suatu Kedepan Tanpa Gagang Senjata di Tempurung Kepala

Setan Bulan Puasa

Sajak Untuk Yunita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terbaru

Menolak Mati, Aksara Project Collective Tandai Kebangkitan Lewat ‘Sasana Sasrawungan’ dan Diskusi Kritis Film ‘Pesta Babi’

Unisma Perluas Fasilitas Rak Free di Kantin Lantai Dua, Gandeng Indogrosir dan Terapkan Sistem Part-Time Mahasiswa 

Tolak Otoritarianisme Kampus, BEM-FAI Unisma Gelar Diskusi Publik Tampung Aspirasi Mahasiswa

Flash Sale, Paylater, dan Mahasiswa yang Sulit Merasa Cukup

Populer

Menolak Mati, Aksara Project Collective Tandai Kebangkitan Lewat ‘Sasana Sasrawungan’ dan Diskusi Kritis Film ‘Pesta Babi’

Unisma Perluas Fasilitas Rak Free di Kantin Lantai Dua, Gandeng Indogrosir dan Terapkan Sistem Part-Time Mahasiswa 

Tolak Otoritarianisme Kampus, BEM-FAI Unisma Gelar Diskusi Publik Tampung Aspirasi Mahasiswa

Flash Sale, Paylater, dan Mahasiswa yang Sulit Merasa Cukup